MALAM TERAKHIRMU

Gambar

foto-foto usang kian menua

jutaan kisah terukir dalam di dalamnya
tak seorang sejarawanpun mampu mngungkap
iya, sudah sedekade lebih berlalu
memahaminya seperti pelajaran tanpa kamus
mengenalnya seperti menghidupkan lilin dalam gulita
ia mampu melengkapi saat kita dalam skenarioNya
tak satupun beban mampu menghalangi untuk terus tersenyum
api cinta yang ia nyalakan dalam hati ini takan padam
untuk terus membakar semangat hidup dan mewujudkan mimpi.
“apa arti pertemuan?” pertanyaanmu tempo hari
aku masih menyimpan rapi dalam dalam hati
dan sekarang kita menemui jawaban.

aku merindukanmu, sangat rindu

Warna

Merah,hijau,biru, bahkan kuning sekalipun

Mereka tetaplah warna

aku yang rindang, subur, dan indah

tak pernah mempermasalahkan warna

semakin banyak warna semakin indah aku

semakin banyak warna bearti mereka

semakin banyak peduli dengan aku

 

Merah,hijau,biru, bahkan kuning sekalipun

Mereka tetaplah warna

tak seorangpun berharap menjadikan itu belati

untuk saling menikam dan mendendam

begitu juga aku

aku yang lelah menangis karena darah

yang ditumpahkan perbedaan warna

 

Merah,hijau,biru, bahkan kuning sekalipun

Mereka tetaplah warna

warna-warna itu jadikan jalan untuk terus

melindungi dan menjaga aku

menjaga air kehidupan

menjaga tanah perdamaian

menjaga warna.

 

(Banda Aceh, 19 maret 2014)

Hidup, Aku

pagi, tetap saja sunyi
tanpa apa dan siapa, aku sudah terbiasa
kesunyian adalah darah dalam nadiku

aku tak lagi pernah mengenal rasa sakit
bahkan belati gulita dan angin malam
tak sanggup menusuk rentanya tubuh ini

air mata adalah anggur yang menyegarkan
dan aku selalu meminumnya dalam tawa
dan aku selalu meminumnya sendiri.

15 April, 2014 Banda AcehGambar

KISAH BISU

 Istri

mas, udah pulang.

bagaimana urusanya, lancarkan?

Pram
alhamdullilah lancar. Aku bersyukur mereka bisa memikirkan bagai mana kedepan bangsa ini. Dan aku tak akan pernah menyerah untuk menyesatkan pemuda-pemuda negri ini ke jalan yang benar, agar bangsa kita semakin teratur.

Istri
iya pak, bangsa ini semakin hari semakin diracuni oleh oknum-oknum pencari untung dalam kondisi yang keritis seperti sekarang. Apalagi orang-orang yang merasa berkuasa di negri ini semakin hilang rasa kemanusiawianya. (sambil membuatkan teh untuk pram)

Pram
itulah bu, kemarin aku mendengar kabar supratman digelandang kepenjara dengan tuduhan yang tak jelas. Kita tahu, supratman itu adalah salah satu aktifis muda yang berpotensi dan sangat peduli terhadap kaumnya. Eh,, malah antek-antek setan itu menangkapnya. Suehermanto,

Istri
yang sering mengajarkan bocah-bocah mengaji di langgar kulon?

Pram
benar, dia ditemukan tewas dengan badan terikat di pohon sawo di  kebunnya pak ahmat.

Istri
mas aku jadi ingat sama bapak, sewaktu bapak dijemput oleh rombongan yang tak dikenal mereka mengaku utusan dari pemerintahan yang diutus membawa bapak untuk memenuhi undangan para pejabat eh,, malah tau-taunya dua hari gak pulang-pulang, kemudian keesokan harinya salah satu dari mereka datang ke rumah Cuma untuk mengantarkan jam tangan yang dikenakan bapak sewaktu ia pergi. Untung aku dan ibuku langsung minggat setelah kejadian itu kalau tidak mungkin kami mangsa berikutnya.

itu dia mas yang terkadang membuat aku begitu mengkhawatirkanmu. Apalagi kau sering berpergian sendiri.

Pram
endang kau tak perlu sebegitunya memikirkan aku, karna mereka dan bangsa ini lebih penting ketimbang nyawaku. Begitu juga yang dilakukan oleh bapakmu dulu. Aku iklas, aku sudah serahkan semua takdirku itu kepada gusti Allah. Kita kan tinggal menjalankan, berusaha dan berdoa semoga yang tidak kita inginkan tak terjadi. Itulah resikomu kalo kamu punya suami seperti aku. Aku juga heran kenapa kau dulu mau kusunting. ( tersenyum merayu)

Istri
alah emas jangan ngomong begitu, nanti aku jadi menyesal kawin sama kamu (mukanya memerah)
ya tapikan kalo aku gak kawin sama kamu pasti udah dikawini sama feteran-feteran gila itu. Apa kamu tega melihat aku dengan mereka?

Pram
mana mungkin aku bairkan begitu saja. (sambil menyruput the buatan ending)

Sahrir
Asalamualaikum..

Istri dan pram serentak menjawab salam dan endang segera membuka pintu.dan sahrir langsung masuk.

Sahrir
pram, pram, ini gawat pram. Mereka membuat ulah lagi, mereka meminta upeti pada warga, mereka membawa anak gadis bu sutinah.

Pram
sudah terlalu sering mereka membuat ulah, mereka tak lebih baik dari bala kurawa. Mereka selalu saja lebih mementingkan perut sendiri ketimbang bangsa dan rakyat sendiri. lantas mengincar orang-orang yang meneurut mereka dapat mencega ide-ide politik busuk mereka. Aku tahu ke arah mana mereka berjalan.  Sudah sampai mana mereka?

Sashrir
yang aku tahu mereka sudah di prapatan kidul.

Istri
mas, apa lagi yang mereka lakukan di kampung ini?

Pram
endang kita tidak ada waktu lagi, pergilah bawa dan jaga anak kita. Sahrir, pergilah dan kabarkan ke  saudara-saudara kita yang lain, lanjutkan terus perjuangan-perjuangan kita tidak ada waktu lagi untuk berfikir, pergilah!

***

Tak lama pram menunggu akhirnya mereka dating.

Prajurit1
Pram keluar kau, atau kau mau melihat anak dan istrimu menjadi arang? Keluar kau pram.

Prajurit
Pram, apa kau sudah tuli, apa kau takut?

mana jiwa pemberontakmu itu, aku pengen tahu seberapa tangguh orang yang bersembunyi di balik dinding rumah ini.

Pram
aku tak takut melawan orang-orang pengecut seperti kalian, yang hanya mampu mengisi perut dengan darah dan nyawa bangsa sendiri.

Prajurit1
hahahahaaaa
bicaralah sepuasmu pram, sebelum gagang senapan ini meontokan gigimu

Pram
heh kau fikir aku takut dengan ancamanmu itu? Sribu kalilipatpun dari itu aku tak takut cuih (sinis sambil meludah kearah prajurit)

Prajurit
ternyata kau lebih tangguh dari yang kami kira, tapi sayang sekali nasipmu pram kau harus lupakan ketangguhanmu itu, karna tikus-tikus ruang bawah tanah siap menghabisi ketangguhanmu.

Pram
atas tuduhan ngawur apa aku ditahan? Apak karna aku telah mencuri gigi emas nenek kalian atau aku dituduh memperkosa, membunuh, atau yang lain?

Prajurit
bangsat kau pram,kau rasakan manisnya gagang snapan ini (sambil menghantamkan gagang senapan itu kemukanya)

Prajurit
kau berani-beraninya mencoba jadi pemberontak bangsa ini, kau terus menulis dan mengungkap keburukan-keburukan pemerintahan yang kau sendiri tak paham dengan itu. Kau sesatkan dank au cuci otak  pemuda-pemuda dengan omong kosongmu.

Pram
lantas ini yang kau sebut dengan kebijakan pemerintah, menindas rakyat kecil padahal nafasmu berasal dari nafas mereka apa kau lupa air yang kau minum, beras yang kau makan, itu berasal dari keringat mereka biadap! Aku memang benar menyesatkan kaum-kaum muda, aku menyesatkan mereka kejalan yang benar.

Prajurit menghantamkan bedil ke kepala pram hingga pingsan

***

Pen penjara

Akhirnya bangun juga kau pram. Kurasa kau tengah bermimpi tentang mimpi-mimpimu yang mati.

Pram
heh,, mimpiku yang mana yang telah mati?

Pen Penjara

Pram, alasan apa kau terus menentang kami, apa kau tak melihat orang-orang yang lebih dahulu melakukan ini? Apa kau terlalu mengagumi mertuamu itu, lantas kau mau ikut-ikutan menggali kubur sendiri?

Pram

Apa urusanmu?

Apa kau masih punya rasa peduli terhadap saudaramu?

Pen penjara

Karena aku peduli dengan orang-orangmu, kau dan juga keluargamu pram. Kenapa kau begitu bodoh memilih jalan hidupmu, kenapa kau tidak mendukung kami saja apa kau tidak mau hidup dengan kebebasan dan kebahagiaan?

Pram

Oo, jadi itu yang kau sebut dengan bahagia? Bahagia mengorbankan darah saudaramu sendiri, bahagia mengorbankan bangsa sendiri. Kalian itu tidak lebih dari perampok dan pembunuh. Kalian lebih mementingkan isi perut kalian saja.

Pen penjara

Pram, ternyata kau masih punya nyali. Aku masih ingin tau seberapa besar nyalimu, apa dengan ini kau masih bernyali pram? (sambil melemparkan baju yang dikenakan endang ketika pergi meninggalkan pram)

Pram

Biadap kalian!

Pen Penjara

Hahahaa..

Ckckck ternyata kau bisa bersedih juga, kasian,kasian

Aku turut beduka pram (sambil tersenyum mengejek)

Pram

Endaaaang!

Kurir-Kata

 

woi, aku lelah, jangan kau jejali aku dengan makianmu
bewa pergi saja bungkusan kata yang kau bawa malam ini
karena yang kemaren saja belum habis, masih tercecer di bawah ranjangku.
kalau tidak, kau beri saja pada penyair di ujung gang itu, mungkin ia membutuhkanya.
sudah pergilah!

Blitar, mei 2013

Lupa diri

 

benih yang kutanam di pematang sunyi kini telah tumbuh menjulang, menyeruak hening, tumbuh subur,berbuah manis dan lebat namun ia semakin lama semakin lupa pada tangan keriput yang saban hari menyisihkan teki dan ilalang yang membenalu, lupa pada tetes keringat yang mengalir dalam akar yang menjelma menjadi buah,
kau melupakanya dengan sengaja.

Blitar, mei 2013